Pustakawan Profesional

Latar Belakang

 

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang menciptakan perkembangan data dan informasi dalam berbagai jenis format dan jumlah yang nyaris tidak terbatas, telah melahirkan sebuah era baru yang disebut sebagai era informasi dan terbentuknya sebuah masyarakat informasi yang memperlakukan sebagai salah satu penopang hidup utama di samping makan dan minum. Hampir segala permasalahan dipecahkan dan diselesaikan dengan bantuan informasi. Pada masyarakat masyarakat informasi, kebutuhan pada informasi menjadi sesuatu yang mutlak dan akhirnya menjadikan informasi sebagai komoditas yang dapat diperjual belikan.

Kebutuhan masyarakat akan informasi yang sangat tinggi kemudian juga menuntut kehadiran lembaga atau pihak manapun sebagai sumber informasi, salah satunya adalah perpustakaan. Perpustakaan dianggap dan dipercayai sebagai salah satu lembaga yang memiliki sumber informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah atau sebagai pendukung utama pengambilan keputusan, dan informasi digunakan sebagai pengetahuan, seperti dinyataka berikut ini:

In the information age, knowledge is a basic social need. The library user needs to be aware that information is more than just a periodical citation for the next paper-it is an essential commodity for survival. (John J. Doherty,1999)

 

Tuntutan pada layanan perpustakaan dalam era informasi menjadi semakin tinggi. Pustakawan berperan dan berkewajiban mengingatkan pada para penggunanya bahwa informasi yang diperoleh bukan hanya sebuah kebutuhan sederhana untuk menyelesaikan sebuah tugas kuliah atau kerja, tetapi sebagai komoditas yang penting sekali untuk bertahan hidup menghadapi persaingan. Untuk menumbuhkan kepercayaan pada peran penting informasi, pustakawan juha harus meningkatkan kualitas kemasan dan bentuk informasi dan sifat layanan yang diberikan yang berkembang dari pasif menuju pro aktif dan akhirnya pada layanan inisiatif.

Kepercayaan yang tinggi pada fungsi informasi sebagai komoditas penunjang kehidupan kahirnya akan mendorong kebutuhan akan pencarian informasi yang paling relevan bagi kehidupan pengguna perpustakaan setiap hari. Kebutuhan ini dibarengi dengan keinginan untuk mendapatkannya dalam waktu singkat namun dengan hasil yang akurat. Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi oleh seorang pustakawan profesional, yaitu “somebody very competent: somebody who shows a high degree of skill or competence” (Encarta Dictionary, 2008), seorang pustakawan yang memiliki kompetensi dalam memberikan layanan informasi dalam berbagai format, sesuai tuntutan kebutuhan komunitas.

Apabila pustakawan kemudian secara profesional mampu memenuhi kebutuhan semua pengguna, maka penghargaan kepada pustakawan, baik penghargaan finansial maupun pengakuan atas kehadirannya dalam kehidupan masyarakat informasi akan menjadi sangat tinggi. Posisi inilah yang harus menjadi tujuan pencapaian seorang pustakawan.

 

Langkah awal

Apa yang harus dilakukan oleh seorang pustakawan maupun calon pustakawan, negeri dan swasta, ber SK Menpan atau dengan surat keterangan lokal, sebagai langkah pertama menuju profesionalisme? Pertanyaan yang mudah dijawab, tetapi memerlukan usaha yang keras untuk menjalankan jawabannya. Namun bukan tidak mungkin dilakukan.

Sebagai dasar pengembangan diri menuju pustakawan profesional, diperlukan sebuah pedoman yang dapat dijadikan ukuran pencapaian kualitas pustakawan. Berikut ini adalah sebuah standar kompetensi pustakawan yang dikeluarkan oleh ikatan ilmuwan informasi dan asosiasi pustakawan di Inggris yang disepakati oleh pustakawan internasional, beberapa di antaranya adalah:

  • Is inclusive, embracing the broad information and library community from all groups in the population and practitioners at all stages in their career
  • Has a code of professional conduct to which its members are required to comply, thus acting as a guarantor to the public
  • Accredits awards at Higher Education institutions and is involved in vocational training
  • Vigorously promotes its qualifications to potential students, practitioners, employers, government and the public
  • Promotes and supports the concept of continuing professional development for all its members by providing a framework for cpd and a programme of opportunities

(The Institute Of Information Scientists, The Library Association, 2007)

Makna utamanya adalah bahwa pustakawan harus (1) mampu menjangkau beragam komunitas perpustakaan dan informasi dan praktisi dalam segala bidang pada semua jenjang karir, (2) mendapat penghargaan atas kemampuannya pada tingkat profesional, (3) memiliki kode etik yang dapat memberikan jaminan layanan profesional pada publik pengguna, (4) mendapat penghargaan dari lembaga pendidikan dan dilibatkan sebagai bagian dari pengembangan lembaga, (5) menunjukkan kemampuannya kepada mahasiswa, praktisi, pimpinan, pemerintah dan masyarakat, (6) mempromosikan dan mendukung gagasan pembangunan profesional berkelanjutan untuk semua anggota asosiasi dengan membuat kerangka kerja dan program kesempatan berkarir.

Untuk itu maka seorang pustakawan harus memberikan perhatian utama pada dua hal: rekan dalam asosiasi dan masyarakat (komunitas dan publik) pengguna informasi dan perpustakaan. Perhatian yang harus diberikan terutama pada perubahan dan perkembangan yang sedang terjadi dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Pengetahuan tentang perubahan dan perkembangan anggota asosiasi dapat diperoleh dengan selalu membina hubungan dengan mereka melalui berbagai kegiatan seperti seminar, pertemuan rutin, lokakarya, atau melalui pertemuan informal, baik langsung ataupun melalui media (telp, surat, email). Dari pertemuan ini dapat selalu diketahui apa saja yang sudah harus diikuti dan disesuaikan, misalnya dampak penerapan UU RI No. 47 tahun 2007 Tentang Perpustakaan terhadap status dan karir pustakawan.

Sementara itu untuk mendapat pengetahuan tentang kebutuhan komunitas pengguna informasi dan perpustakaan seorang pustakawan dapat menggunakan banyak sumber, mulai dari komunikasi langsung dengan mereka, sampai pada membaca tulisan mengenai perkembangan dan kemajuan bidang informasi dan perpustakaan. Dari pengetahuan ini seorang pustakawan dapat mengukur apakah dia telah memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk dapat memenuhi kebutuhan komunitas sesuai perkembangan dan kemajuan yang ada. Selanjutnya pengetahuan tentang kemajuan dan perkembangan ini digunakan sebagai tolok ukur kompetensi yang harus dimilikinya.

Pengembangan Diri

Pendidikan Formal

Salah satu syarat utama seseorang disebut atau menyebut dirinya profesional adalah dia harus memiliki latar belakang pendidikan yang formal yang diperoleh dengan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan yang resmi, baik swasta maupun negeri pada strata pendidikan minimal diploma (D3). Namun pendidikan ini saja tidak cukup karena bagaimanapun jalur pendidikan inipun memiliki keterbatasan, yaitu waktu pendidikan yang pendek dan jumlah materi yang tidak mungkin menghasilkan semua jenis kemampuan.

Pendidikan Inisiatif

Untuk itu seorang pustakawan harus juga menambah ilmu dan keterampilan dari bermacam sumber pengetahuan, baik dari sumber bacaan mapun pelatihan (kalau bisa, yang gratisan!) yang diadakan oleh lembaga maupun perorangan. Cakupan ilmu dan keterampilan ini juga tidak terbatas pada bidang ilmu informasi dan kepustakawanan (information science and libraianship), tetapi juga bidang sosial, budaya dan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dengan ilmu dan keterampilan ini diharapkan seorang pustakawan akan memiliki sumber informasi yang sangat kaya dan akhirnya dapat menyediakan informasi dengan cakupan yang sangat luas, dan dapat memberikan layanan pada pengguna dari berbagai kalangan, termasuk pengguna dari luar negeri.

Pengembangan Jaringan

Seorang pustakawan, sepintar apapun, tidak akan dapat melakukan semua tugas dan perannya sendirian, demikian pula dia tidak akan dapat mengikuti semua perkembangan yang ada disekelilingnya hanya dari lingkungan kerjanya sendiri. Untuk itu maka dia harus selalu menjalin dan terjalin hubungannya dalam sebuah jaringan dengan orang lain, baik sesama pustakawan maupun profesional dari bidang lain. Dari hubungan ini seorang pustakawan akan selalu updated dengan segala perkembangan dan kemajuan yang ada. Jaringan juga akan membantunya mengatasi persoalan dalam pengembangan diri karena dari sekian banyak hubungan akan ada pustakawan atau profesional lain yang dapat memberi bantuan atau jaringan baru yang memberikan pedoman tindakan yang dibutuhkan, hampir dalam bidang apapun.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membentuk dan membina jaringan, seperti menjadi anggota ikatan/ asosiasi/ perhimpunan dari sebuah keahlian sejenis (yang sebenarnya menjadi salah satu syarat profesional) yang banyakn didirikan untuk itu. Cara lain adalah dengan mengikuti seminar atau lokakarya dalam berbagai bidang yang relevan. Yang paling utama adalah bahwa seorang pustakawan harus ‘gaul’, mengenali dan dikenali. Untuk itu dia harus bersifat dan bersikap luwes, ramah terbuka dan mudah bergaul. Tidak jamannya lagi seorang pustakawan dikenali atau digambarkan oleh masyarakat sebagai: kaku, judes, galak, tertutup dan ‘nggak gaul banget’.

Kompetensi Utama

Updated dan Modern

Walaupun tidak harus memiliki, seorang pustakawan profesional harus memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas tentang teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi (ICT – information and communication technology), baik dari cara kerja sebuah jaringan berbasis satelit, serat optik maupun blueray, sampai pada gadget (alat bantu pengolah informasi dan komunikasi yang dapat digenggam-ponsel, PDA, digital sound and graphic/ visual recorder: iPod, DoPod) terbaru, terutama pada fungsi dan apa manfaat yang dapat diambil. Sumber informasi untuk ini begitu banyaknya di berbagai bentuk media cetak dan elektronik. Tinggal akses!

Keterampilan Komunikasi

Prof. Sulistyo Basuki menyatakan bahwa salah satu keterampilan utama seorang pustakawan profesional adalah berkomunikasi. Dengan komunikasi seorang pustakawan dapat mengenali kebutuhan dan keinginan penggunanya dan dapat mengungkapkan siapa diri dan kompetensi yang dimilikinya. Dengan komunikasi yang baik sebuah hubungan akan mudah sekali terjalin dengan siapapun.

Keterampilan komunikasi yang harus dimiliki tidak hanya komunikasi secara personal tetapi sampai pada menciptakan komunikasi efektif dalam kelompok bahkan dengan masyarakat (mass communication) dangan menggunakan berbagai jenis media komunikasi. Keterampilan komunikasi yang harus dikuasai adalah berbicara dan menulis serta merancang pesan dan memilih media untuk mempromosikan diri dan lembaganya. Seorang pustakawan harus bisa menuliskan gagasannya dengan bahasa yang tepat, baik ketika menulis sebuah artikel di media, penulisan laporan dan penulisan laporan. Di samping itu dia juga harus dapat berbicara dengan bahasa yang meyakinkan, jelas, rinci tetapi tetap menyenangkan orang yang mendengarnya, baik bicara kepada seorang pengguna maupun di depan publik (pidato, ceramah, mengajar).

Cara mengasah keterampilan berkomunikasi juga sangat banyak, baik melalui pendidikan khusus bidang menulis dan berbicara, membaca berbagai artikel dan buku tentang keterampilan komunikasi, atau melalui frekuensi berbicara dengan orang lain secara personal dalam berbagai acara dan kegiatan.

Pengetahuan

Karena kerja dan aktivitas pencarian, pengelolaan dan penyebaran informasi yang ditangani oleh pustakawan sangat bervariasi dan selalu berkaitan dengan komponen kerja di bidang lain, seorang pustakawan harus juga banyak menguasai bidang antara lain: ekonomi dan pemasaran, politik, hukum, budaya, agama, psikologi, administrasi dan manajemen. Pengetahuan ini digunakan dalam dua hal berbeda, yaitu pada saat mengelola koleksi, pengetahuan ini digunakan untuk dapat mengklasifikasi dan menentukan siapa subject specialists yang dapat dimintai bantuan. Kebutuhan lain adalah ketika dalam kerjanya terdapat komponen yang harus diselesaikan melalui bidang lain, misalnya pada saat menyusun anggaran program, pustakawan akan menggunakan ekonomi, administrasi, manajemen dan hukum sebagai dasar kebijakan penyusunannya. Pengetahuan politik dan budaya akan digunakan pada saat menentukan apakah sebuah karya secara politis dan budaya pantas disajikan kepada publik, dst.

Penutup

            Pokok utama pada gagasan mengenai strategi menuju pustakawan profesional adalah bahwa pustakawan bukanlah sebauh sosok yang hanya bergerak, bekerja dan berkarya dalam sebuah cakupan bidang yang sempit. Untuk itu maka pustakawan profesional tidak cukup hanya belajar dan menguasai bidang pengelolaan informasi dan perpustakaan melainkan hampir semua bidang ilmu dan keterampilan yang ada. Sedangkan untuk menguasi ilmu dan keterampilan terdapat banyak sekali jalan dan cara yang dapat ditempuh.

Dari semua itu, hal paling utama dan mendasar adalah bahwa pustakawan harus bersedia mendedikasikan semua kompetensi, kemampuan dan perhatiannya pada kepuasan pengguna dan kemajuan perpustakaan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dan pelestari budaya dan hasil karya manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s